Quote: Cerpen Datangnya dan Perginya

Masih merinding sampai saat ini membaca cerpen karya AA Navis berjudul Datangnya dan Perginya (cerpen ini terdapat di buku antologi cerpen berjudul Robohnya Surau Kami).

Cerpen ini mengisahkan penyesalan seorang bapak atas perbuatan yang telah dilakukannya kepada anak (Masri) dan istri (Iyah) yang telah diceraikannya. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, diawali dari surat yang dikirim oleh Masri untuk menemuinya, akhirnya sang bapak memenuhi surat tersebut dan bermaksud untuk meminta maaf kepada Masri. Namun kesalahan yang telah dilakukan sang bapak tersebut membawa petaka di masa kini. Istri Masri merupakan anak Iyah yang juga anak kandung sang bapak!!
Pasti penasaran kan dengan jalan ceritanya?? Well, pada kesempatan ini gw mau share kutipan-kutipan yang menurut gw menarik dalam cerpen ini *please enjoy🙂
“Aku tak mengerti, kenapa semua orang yang berbudi baik, terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yg tak baik saja? Ah, maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?”
“Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu, Anakku. Kini, aku datang menyerahkan diriku padamu, sebagai ayah yang kalah.”
“Sifat-sifatku yang tinggi hati, karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. Aku insaf sekarang, kesombongan itulah yg menghancurkan kehidupanku selama ini.”
“‘Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain’ kata perempuan itu mencetus.”
“‘Cerita maaf, memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Tapi bagiku, orang yang selamanya dalam kesulitan ini, cerita maaf haruslah diperhitungkan dulu. Perhitungan antara aku dan kau,’ kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang keras.”

“Tapi aku sudah taubat. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup.”
“‘Istri Masri anakku. Juga anakmu!’ kata perempuan itu ketus.”
“‘Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung, sejak itu sampai sekarang, aku sediakan diriku dipukuli kutukan. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini, asal mereka tetap bahagia’ suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi.”
“‘Bukankah itu dosa?’ | “Benar. Bagi siapa yang tahu.'”
“‘Walau bagaimana mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka saudara kandung.’ | ‘Demi menjunjung perintah Tuhan?’ | ‘Demi menjunjung perintah Tuhan yg kusembah siang malam.'”
“‘Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain? | ‘Itu tak soal. Kerena manusia itu berakal & beriman.'”
“‘Omong kosong. Akal kau, iman kau, hanya ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. | ‘Kau murtad, Iyah!’ | ‘Lebih baik dari orang sepengecut kau.'”
“Aku tahu. Adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka saudara kandung. Tapi aku dari semula sudah salah. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Dalam hal ini mereka tidak salah. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu, aku ditindih perasaan dosa sepanjang waktu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang. Kurangkah imanku, kalau dosaku adalah dosaku. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain, apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. Aku merasakan itu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu.”

Dari kutipan-kutipan yang gw share tadi mungkin kalian bisa menebak jalan ceritanya sepertinya apa, ya kan?? So, kalau masih penasaran kalian bisa baca cerpen ini di dalam buku antologi cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Hmm, kalau cerpen ini dibuat film gw punya lagu yang pas untuk dijadikan soundtrack-nya, yaitu lagu dari band Cokelat berjudul Bukan Hari Ini🙂

“Semua yang pernah
Terjalin indah antara kita
Berakhir sudah
Terlalu cepat begitu saja

Saat kau berpaling dariku
Kau tinggalkan
Kau hancurkan
Hatiku merasa

Bukan hari ini harusnya kau kembali
Terlalu lama engkau menyadari
Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku selamanya

Maafkan aku tak sanggup lupakan
Semua khilafmu
Mungkin ini yang terbaik untuk kita
Menerima kenyataan yang ada”

-hQZou-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s